"Badan langsung ringan setelah minum jamu pegal? Hati-hati, efek cepat tersebut bisa berasal dari steroid tersembunyi. Banyak orang mengonsumsinya bert..."
Obat Pegal Warung Belum Tentu Aman: Waspadai Adanya Steroid
Membeli obat pegal di warung atau mengonsumsi jamu untuk mengatasi nyeri badan sudah menjadi kebiasaan yang sangat umum. Ketika tubuh terasa pegal, sendi nyeri, atau badan terasa tidak nyaman setelah bekerja, banyak orang langsung mencari obat yang dianggap paling “manjur”. Tidak sedikit pula yang merasa cocok dengan obat tertentu karena efeknya sangat cepat: badan terasa ringan, nyeri berkurang, dan aktivitas kembali lancar hanya dalam waktu singkat.
Fenomena di atas membuat obat pegal tertentu memiliki pelanggan setia. Bahkan, sebagian masyarakat memiliki keyakinan bahwa obat yang paling cepat membuat badan enak berarti obat tersebut paling bagus. Padahal, seperti telah dibahas pada artikel sebelumnya berjudul “Obat yang Cepat Bikin Enak Belum Tentu Bagus: Waspadai Efek Instan dari Steroid”, efek instan belum tentu identik dengan keamanan.
Di balik efek cepat tersebut, sebagian produk ternyata dapat mengandung bahan kimia obat (BKO), termasuk steroid, yang dicampurkan secara ilegal. Kandungan inilah yang sering membuat obat atau jamu terasa sangat ampuh dalam waktu singkat. Masalahnya, banyak konsumen tidak menyadari bahwa mereka mengonsumsi steroid secara terus-menerus. Penggunaan jangka panjang tanpa pengawasan dapat menimbulkan berbagai efek samping serius, mulai dari gangguan lambung hingga diabetes dan osteoporosis. Karena itu, penting bagi masyarakat memahami bahwa obat pegal atau jamu yang terasa sangat manjur belum tentu aman untuk digunakan rutin.
Mengapa Obat Pegal Bisa Terasa Sangat Manjur?
Keluhan pegal dan nyeri sebenarnya dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti kelelahan otot, aktivitas fisik berlebihan, postur tubuh yang buruk, kurang tidur, hingga penyakit tertentu. Untuk mengurangi rasa nyeri tersebut, berbagai produk obat dan jamu dijual bebas di masyarakat. Sebagian obat pegal memang mengandung analgesik atau obat pereda nyeri yang legal dan sesuai aturan. Ada pula produk yang mengandung obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti:
- asam mefenamat,
- ibuprofen,
- diclofenac,
- atau piroxicam.
NSAID bekerja dengan mengurangi proses inflamasi sehingga nyeri dan pegal dapat berkurang. Karena itu, obat golongan ini memang sering digunakan untuk mengatasi nyeri otot atau sendi. Namun, pada beberapa produk tertentu, efek cepat dan “sangat ampuh” bisa berasal dari kandungan steroid tersembunyi. Steroid memiliki efek antiinflamasi yang sangat kuat sehingga tubuh terasa lebih nyaman dalam waktu singkat.
Inilah alasan mengapa sebagian orang merasa obat tertentu sangat cocok untuk pegal, nyeri sendi, atau badan capek. Setelah diminum, tubuh terasa lebih ringan dan keluhan cepat membaik. Padahal, seperti dibahas pada artikel “Dexamethasone Bukan Obat untuk Semua Radang”, steroid sebenarnya bukan obat yang boleh digunakan untuk semua jenis nyeri atau peradangan. Masalah lain adalah pasien sering kali hanya menilai obat dari “efek langsungnya”, tanpa memahami kandungan dan risiko penggunaan jangka panjangnya.
Modus Steroid dalam Jamu dan Obat Tradisional
Salah satu masalah yang cukup sering ditemukan adalah adanya bahan kimia obat (BKO) yang dicampurkan secara ilegal ke dalam jamu atau obat tradisional.
Apa Itu BKO?
BKO atau bahan kimia obat adalah zat aktif obat modern yang ditambahkan ke produk tradisional tanpa dicantumkan pada label. Praktik ini ilegal karena dapat membahayakan konsumen. Beberapa jenis BKO yang sering ditemukan dalam jamu pegal antara lain:
- dexamethasone,
- prednisone,
- prednisolone,
- phenylbutazone,
- parasetamol,
- hingga sildenafil pada produk tertentu.
Steroid seperti dexamethasone sering dipilih karena mampu memberikan efek cepat yang membuat konsumen merasa produk tersebut sangat manjur.
Kasus Temuan BPOM
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) beberapa kali menemukan jamu tradisional yang mengandung BKO secara ilegal. Produk-produk tersebut biasanya diklaim mampu:
- menghilangkan pegal,
- menyembuhkan rematik,
- mengatasi encok,
- atau membuat tubuh cepat segar.
Padahal, efek cepat tersebut sering berasal dari kandungan steroid atau analgesik kuat yang tidak diinformasikan kepada konsumen. Masalahnya, konsumen menganggap produk tersebut “alami” dan aman digunakan terus-menerus karena dipasarkan sebagai jamu atau herbal.
Steroid Dicampur Secara Ilegal
Pencampuran steroid dalam jamu sangat berbahaya karena pengguna tidak mengetahui dosis maupun lama paparan yang diterima tubuh. Akibatnya, seseorang bisa mengonsumsi steroid selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa sadar. Risiko efek samping pun meningkat secara perlahan.
Hal ini berkaitan erat dengan artikel sebelumnya mengenai “Benarkah Steroid Aman Asal Dosis Kecil?” yang menjelaskan bahwa penggunaan steroid berulang, meskipun dalam jumlah yang dianggap kecil, tetap dapat menimbulkan dampak serius. Karena itu, masyarakat perlu lebih waspada terhadap produk yang diklaim terlalu ampuh atau terlalu cepat menyembuhkan nyeri.
Risiko Jika Dikonsumsi Terus-Menerus
Penggunaan obat pegal atau jamu yang mengandung steroid secara terus-menerus dapat menimbulkan berbagai efek samping serius.
1. Gagal Ginjal
Sebagian produk pegal mengandung NSAID dalam jangka panjang, sementara sebagian lainnya dapat mengandung steroid. Kombinasi atau penggunaan berkepanjangan dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal. Risiko ini lebih besar pada lansia atau orang yang memiliki penyakit kronis.
2. Osteoporosis
Steroid dapat menyebabkan pengeroposan tulang bila digunakan jangka panjang. Tulang menjadi lebih rapuh dan risiko patah tulang meningkat. Pada banyak kasus, pasien baru menyadari masalah ini setelah penggunaan bertahun-tahun.
3. Diabetes
Steroid dapat meningkatkan kadar gula darah. Penggunaan terus-menerus dapat memperburuk diabetes atau bahkan memicu gangguan metabolik pada orang yang sebelumnya sehat.
4. Gangguan Lambung
NSAID dan steroid sama-sama dapat meningkatkan risiko iritasi lambung. Keluhan seperti nyeri ulu hati, mual, hingga perdarahan saluran cerna dapat terjadi bila obat digunakan tanpa kontrol.
5. Moon Face
Salah satu efek khas penggunaan steroid jangka panjang adalah perubahan bentuk wajah menjadi lebih bulat (moon face). Kondisi ini sering disertai peningkatan berat badan dan perubahan distribusi lemak tubuh. Masalahnya, banyak pasien tidak menyadari bahwa perubahan tersebut berkaitan dengan penggunaan obat atau jamu yang mereka konsumsi rutin. Karena efek samping berkembang perlahan, pasien sering merasa produknya aman padahal tubuh sedang mengalami dampak jangka panjang.
Cara Mengenali Produk Berisiko
Masyarakat memang tidak selalu mudah mengetahui apakah suatu produk mengandung steroid tersembunyi. Namun, ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai.
1. Klaim Terlalu Hebat, hati-hati terhadap produk yang mengklaim dapat:
- menyembuhkan semua pegal,
- menghilangkan nyeri total,
- atau bekerja sangat cepat pada semua orang.
Dalam dunia medis, tidak ada obat yang cocok untuk semua kondisi.
2. “Cepat Sembuh Total”
Produk yang memberikan efek sangat cepat kadang membuat konsumen merasa luar biasa cocok. Namun, efek instan justru perlu dicurigai, terutama bila gejala hilang drastis dalam waktu singkat.
3. Komposisi Tidak Jelas
Produk yang tidak mencantumkan kandungan dengan jelas perlu diwaspadai. Konsumen berhak mengetahui apa yang masuk ke tubuh mereka.
4. Tidak Ada Izin BPOM
Pastikan produk memiliki izin edar resmi dari BPOM. Produk ilegal lebih berisiko mengandung BKO yang tidak dicantumkan. Meskipun demikian, konsumen tetap perlu kritis karena izin edar bukan berarti produk boleh digunakan terus-menerus tanpa evaluasi.
Bagaimana Mengatasi Nyeri dengan Lebih Rasional?
Nyeri dan pegal sebenarnya tidak selalu harus diatasi dengan obat kuat atau steroid. Pendekatan yang lebih rasional sering kali justru lebih aman dalam jangka panjang.
1. Evaluasi Penyebab, penting untuk memahami penyebab nyeri:
- apakah karena aktivitas berlebihan,
- postur tubuh,
- kurang tidur,
- atau penyakit tertentu.
Mengobati penyebab dasar jauh lebih penting dibandingkan hanya menghilangkan gejala sementara.
2. Fisioterapi, pada beberapa kondisi nyeri otot dan sendi, fisioterapi dapat membantu memperbaiki fungsi tubuh dan mengurangi nyeri tanpa harus bergantung pada obat.
3. Olahraga dan peregangan, aktivitas fisik yang tepat dapat membantu memperkuat otot dan mengurangi risiko pegal berulang.
4. Tidur yang cukup, kurang tidur dapat memperburuk persepsi nyeri dan memperlambat pemulihan tubuh.
5. Ergonomi, posisi duduk, bekerja, atau mengangkat beban yang salah dapat menyebabkan pegal berulang. Perbaikan ergonomi sering kali sangat membantu.
6. Penggunaan analgesik secara rasional, bila diperlukan, analgesik dapat digunakan sesuai indikasi dan aturan pakai. Tidak semua nyeri membutuhkan steroid atau kombinasi obat yang terlalu kuat.
Konsultasi dengan dokter atau apoteker penting dilakukan bila nyeri berlangsung lama atau berulang.
Penutup
Budaya mencari obat pegal yang paling cepat terasa memang sangat umum di masyarakat. Namun, efek cepat belum tentu berarti aman. Sebagian obat atau jamu yang terasa sangat ampuh ternyata dapat mengandung steroid atau bahan kimia obat lain secara ilegal. Penggunaan jangka panjang tanpa pengawasan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius, mulai dari gangguan lambung hingga diabetes dan osteoporosis.
Karena itu, masyarakat perlu lebih kritis terhadap produk yang dikonsumsi. Jangan mudah percaya pada klaim “alami”, “aman”, atau “langsung sembuh total”.
Jangan hanya menilai obat dari seberapa cepat efeknya.
Daftar Pustaka
1. Brunton LL, Hilal-Dandan R, Knollmann BC. Goodman & Gilman’s The Pharmacological Basis of Therapeutics. 14th ed. New York: McGraw-Hill Education; 2022.
2. Katzung BG, Vanderah TW. Basic and Clinical Pharmacology. 16th ed. New York: McGraw-Hill Education; 2024.
3. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI). Public Warning Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan Mengandung Bahan Kimia Obat. Jakarta: BPOM RI.
4. Schacke H, Docke WD, Asadullah K. Mechanisms involved in the side effects of glucocorticoids. Pharmacol Ther. 2002;96(1):23–43.
5. Barnes PJ. Anti-inflammatory actions of glucocorticoids: molecular mechanisms. Clin Sci (Lond). 1998;94(6):557–572.